Sundul
Liga Italia

Italia Absen Piala Dunia 2026: Solusi Gila atau Jalan Keluar?

Italia kembali gagal lolos Piala Dunia, dan kini muncul usulan ekstrem: turunkan pemain U-19 di Serie A. Gila? Mungkin. Tapi mungkin juga itulah satu-satunya obat.

Naila Sari · 11 Mei 2026, 07:03 · 6 min baca

Ada momen-momen dalam sepak bola ketika sebuah bangsa dipaksa cermin menatap wajahnya sendiri. Italia sedang di titik itu sekarang. Dua kali absen dari pentas Piala Dunia dalam rentang sembilan tahun — 2018 dan kini 2026 — bukan sekadar kecelakaan taktis. Ini krisis struktural yang sudah lama menggerogoti fondasi sepak bola Italia dari dalam. Dan ketika pelatih Juventus melontarkan usul yang terdengar absurd — mainkan pemain U-19 di Serie A secara reguler — jujur saja, saya tidak langsung menertawakannya. Karena kalau dipikir ulang, ini bukan kegilaan. Ini adalah jeritan frustrasi yang kebetulan punya logika.

Krisis yang Bukan Tiba-Tiba

Fenomena ini mengingatkan kita pada satu prinsip sederhana yang sering dilupakan: talenta tidak lahir di ruang hampa. Mereka butuh panggung. Italia punya akademi kelas dunia — Juventus Next Gen, primavera Inter, La Masia-nya AC Milan — tetapi semua itu sia-sia kalau ujungnya pemain 19-21 tahun hanya duduk di bangku cadangan sambil menonton striker 32 tahun impor dari luar Serie A berebut menit bermain.

Kalau kita lihat dari sudut taktik dan demografi, ada pola yang mencengkam. Klub-klub Serie A selama bertahun-tahun lebih memilih pengalaman instan ketimbang investasi jangka panjang. Hasilnya? Timnas Italia tidak kekurangan taktik atau pelatih brilian — mereka kekurangan pemain muda yang sudah tertempa tekanan pertandingan nyata sebelum berusia 22 tahun. Sementara Spanyol melahirkan Lamine Yamal di 16 tahun, Inggris sudah percayakan Jude Bellingham dan Bukayo Saka di usia belasan di level tertinggi, Italia masih membungkus bakat-bakat mudanya dalam kapas bernama "sabar dulu, tunggu giliran."

Usul Pelatih Juventus: Radikal atau Realistis?

Yang menarik dari gagasan ini bukan sekadar soal usia pemain yang diturunkan. Kuncinya bukan di sini. Kuncinya adalah pada filosofi yang melatarbelakanginya: bahwa sistem kompetisi domestik Italia harus berubah peran, dari sekadar liga terbaik di dunia untuk pemain terbaik dunia, menjadi inkubator aktif pemain Italia itu sendiri.

Kesan saya pribadi — ini bukan kebijakan yang bisa diterapkan setengah-setengah. Kalau benar mau mainkan pemain U-19 secara reguler di Serie A, itu butuh kesepakatan struktural antara klub, federasi, dan bahkan agen-agen besar yang selama ini menguasai ekosistem transfer. Juventus sendiri saat ini ada di posisi 13 klasemen Serie A dengan 13 poin dari 8 laga — performa yang jauh dari meyakinkan. Dalam kondisi seperti itu, apakah ada klub yang mau jadi kelinci percobaan dan menurunkan remaja 18 tahun di laga-laga krusial?

Jawabannya: tidak akan ada, kecuali ada insentif sistemik. Dan di sinilah federasi Italia — FIGC — harus masuk dengan regulasi, bukan imbauan moral.

Belajar dari Timnas Lain: Jerman, Prancis, dan Bahkan Indonesia

Menarik kalau kita bandingkan dengan Jerman pasca-2018. Setelah tersingkir di fase grup Piala Dunia Russia, DFB tidak sekadar ganti pelatih. Mereka mengubah filosofi pembinaan dari akar — mewajibkan menit bermain pemain muda di Bundesliga, mereformasi kurikulum akademi nasional, dan bahkan melobi klub untuk lebih sabar dengan pemain domestik. Hasilnya belum sempurna, tapi setidaknya Jamal Musiala, Florian Wirtz, dan Xavi Simons (meski Belanda) lahir dari ekosistem yang diperbaiki itu.

Prancis? Mereka punya Clairefontaine, sistem yang sudah terbukti. Tapi yang sering terlewat adalah fakta bahwa Kylian Mbappé sudah bermain di Ligue 1 usia 16 tahun dan Liga Champions usia 18 tahun. Itu bukan kebetulan — itu keberanian Monaco mengambil risiko.

Dan ya, kita bisa menyinggung Indonesia di sini. Di tengah euforia era baru timnas dengan John Herdman yang baru disambut Erick Thohir, salah satu agenda paling krusial tetap sama: bagaimana memastikan pemain muda Liga 1 mendapat menit bermain yang cukup. Klub-klub Liga 1 kita juga terjebak dalam logika yang sama dengan Italia — lebih aman pasang pemain senior yang sudah terbukti daripada memberi kepercayaan ke anak 19 tahun. Padahal generasi Egy Maulana Vikri, Marselino Ferdinan, hingga pemain-pemain muda yang kini dipanggil Herdman, mereka butuh pengalaman kompetitif yang real, bukan sekadar latihan.

Serie A dan Paradoks Liga Terbaik

Ada satu hal yang sering terlewat dalam perdebatan soal krisis timnas Italia: Serie A justru terlalu kompetitif untuk pemain mudanya sendiri. Kehadiran bintang-bintang dunia — dari striker Afrika, gelandang Amerika Latin, hingga bek Eropa Timur — membuat Serie A menjadi liga berkualitas tinggi, tapi bukan untuk pemain muda Italia.

Secara historis, Serie A pernah punya periode keemasan yang sekaligus produktif untuk pemain lokal: era 1980-1990an ketika Mancini, Del Piero, Baggio, Buffon semuanya menempa diri di kampung sendiri sebelum menjadi legenda. Tapi itu era berbeda, sebelum liberalisasi transfer dan dominasi kapital mengubah segalanya.

Sekarang, pelatih-pelatih klub Serie A bekerja di bawah tekanan hasil jangka pendek. Presiden klub mau trofi, bukan proyek pembinaan. Dan tidak ada satu pun pelatih yang akan nekat main pemain U-19 kalau karier mereka sendiri bergantung pada tiga poin di akhir pekan. Usul si pelatih Juventus ini bagus di atas kertas, tapi butuh satu hal yang paling langka di sepak bola elite modern: kesabaran institusional.

Apa yang Harus Benar-Benar Dilakukan Italia

Kalau saya harus beri solusi konkret — dan ini pendapat saya, bukan kebijakan resmi — ada tiga langkah yang Italia harus ambil sekarang juga.

Pertama, regulasi menit bermain wajib untuk pemain muda di bawah 21 tahun, mirip yang pernah diwacanakan Premier League. Bukan imbauan, tapi aturan dengan konsekuensi. Kedua, reformasi sistem loan: pemain muda Juventus, Inter, dan Milan yang sekarang dipinjamkan ke klub-klub kecil Serie B harus dipantau perkembangannya secara nasional, bukan sekadar formalitas agar "dapat menit." Ketiga — dan ini yang paling berani — FIGC harus berani memilih pelatih timnas yang bersedia membangun proyek multi-tahun, bukan nama besar yang butuh hasil instan untuk menyelamatkan reputasinya.

Yang patut dicatat adalah ini: Italia masih punya bakat. Akademi mereka masih salah satu yang terbaik di dunia. Masalahnya bukan kualitas bibit — masalahnya adalah lahan tempat bibit itu tumbuh sudah terlalu lama dikuasai tanaman tua yang tidak mau diganti.

Hot Take: Absen dari Piala Dunia 2026 Bisa Jadi Berkah

Ini prediksi saya, dan mungkin kontroversial: Italia absen dari Piala Dunia 2026 bisa menjadi momen paling transformatif dalam sejarah sepak bola mereka dalam 30 tahun terakhir — kalau mereka mau belajar. Bukan dengan panik, bukan dengan ganti pelatih setiap enam bulan, tapi dengan keberanian mengambil keputusan struktural yang menyakitkan dalam jangka pendek.

Juventus di posisi 13 Serie A. Italia absen dari Piala Dunia dua kali dalam satu dekade. Usulan memasukkan pemain U-19 ke pertandingan Serie A reguler. Semua ini terdengar seperti tanda-tanda krisis. Tapi bagi saya, ini justru tanda-tanda bahwa orang-orang yang peduli pada sepak bola Italia mulai berpikir tanpa tabir ego. Dan itu, ironisnya, adalah titik awal paling menjanjikan dari semua ini.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah Italia punya nyali untuk merawat rasa sakit ini sampai benar-benar sembuh?

#Sundulinfo #Piala Dunia 2026 #Piala Dunia 2026 #Serie A #Italia #Juventus #Profil Pelatih #Analisis Taktik #Timnas #Regenerasi Pemain