NAC Breda Diserang Klub Eredivisie soal Paspor Timnas Indonesia
NAC Breda menjadi sorotan dan diserang klub-klub Eredivisie lain setelah ulah mereka terkait proses naturalisasi dan paspor pemain Timnas Indonesia memicu kegaduhan di liga Belanda.
NAC Breda menjadi bulan-bulanan klub-klub Eredivisie setelah tindakan mereka terkait paspor sejumlah pemain Timnas Indonesia memicu kontroversi besar di sepak bola Belanda. Persoalan ini mencuat di tengah kondisi NAC Breda yang sedang terpuruk — klub asal kota Breda itu kini bertengger di posisi 17 Eredivisie dengan hanya 25 poin dari 32 pertandingan, hasil dari 5 kemenangan, 10 hasil imbang, dan 17 kekalahan.
Apa yang Dilakukan NAC Breda?
NAC Breda dikabarkan melakukan langkah yang dianggap kontroversial dalam proses pengurusan dokumen kewarganegaraan atau paspor untuk pemain-pemain keturunan yang masuk radar Timnas Indonesia. Langkah ini dituding merugikan pihak lain dan melanggar etika kompetisi oleh sejumlah klub rival di Eredivisie.
Timnas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang aktif menaturalisasi pemain-pemain keturunan yang berkarier di Belanda. Sebagian besar dari mereka bermain di Eredivisie dan divisi di bawahnya, termasuk beberapa yang berafiliasi dengan NAC Breda.
Reaksi Klub-Klub Eredivisie
Sejumlah klub Eredivisie tidak tinggal diam. Mereka secara terbuka mengkritik cara NAC Breda menangani proses paspor ini, menganggap ada praktik yang tidak fair dan berpotensi menciptakan preseden buruk bagi kompetisi domestik Belanda.
Tekanan dari sesama klub semakin berat mengingat posisi NAC Breda yang sudah sangat rentan secara kompetitif musim ini. Dengan empat laga terakhir hanya menghasilkan dua seri dan dua kekalahan (LLDD), klub ini bahkan terancam terdegradasi dari Eredivisie — ancaman yang makin nyata dengan posisi ke-17 di klasemen.
Konteks Naturalisasi Timnas Indonesia di Belanda
Program naturalisasi Timnas Indonesia memang banyak menyasar pemain keturunan Indonesia yang lahir atau besar di Belanda. Negara ini memiliki komunitas diaspora Indonesia yang besar, sehingga banyak pemain berdarah Indonesia yang kini aktif di kompetisi-kompetisi Eropa, termasuk Eredivisie.
Proses naturalisasi ini secara umum legal dan diakui FIFA selama pemain belum pernah membela tim nasional negara lain di level senior. Namun persoalannya menjadi rumit ketika menyangkut waktu, proses administrasi, dan dugaan campur tangan klub dalam mempercepat atau justru mempersulit pengurusan paspor pemain.
Inilah yang tampaknya menjadi inti tuduhan terhadap NAC Breda — bukan soal legalitas naturalisasi itu sendiri, melainkan cara klub mengelola proses dokumen para pemainnya yang masuk incaran federasi Indonesia.
Nasib NAC Breda di Ujung Tanduk
Polemik ini muncul di waktu yang paling tidak menguntungkan bagi NAC Breda. Dengan hanya tersisa beberapa pertandingan di musim Eredivisie 2025/26, klub ini nyaris pasti menjalani playoff degradasi atau bahkan langsung turun kasta.
Statistik musim ini berbicara keras: 55 gol kemasukan dari 32 laga adalah salah satu yang terburuk di seluruh Eredivisie. Hanya 30 gol yang berhasil dicetak. Selisih gol minus 25 menempatkan mereka jauh di zona merah.
Kegaduhan soal paspor pemain Timnas Indonesia ini praktis menambah tekanan eksternal di saat NAC Breda tengah berjuang mempertahankan status divisi teratas mereka. Perhatian yang seharusnya terfokus ke lapangan justru tersedot ke konflik administratif yang mempermalukan mereka di mata sesama klub.
Dampak bagi Timnas Indonesia
Bagi Timnas Indonesia, situasi ini bisa berdampak pada kelancaran proses naturalisasi pemain-pemain berikutnya yang berkarier di Belanda. Jika konflik antara NAC Breda dan klub-klub Eredivisie lain melibatkan pemain yang sedang dalam proses pengurusan paspor Indonesia, ada risiko keterlambatan yang berpengaruh pada ketersediaan pemain untuk agenda internasional.
Pelatih Timnas Indonesia tentu harus memantau perkembangan ini dengan cermat, mengingat sejumlah pemain keturunan yang bermain di Eredivisie masih menjadi target rekrutmen untuk memperkuat skuad Garuda di berbagai turnamen mendatang.
Polemik NAC Breda ini menjadi pengingat bahwa proses naturalisasi pemain, sekalipun sah secara regulasi, tidak selalu berjalan mulus di lapangan — terutama ketika kepentingan klub dan federasi nasional berbenturan di satu titik yang sama.