Sistem Split Scottish Premiership: Cara Kerjanya
Scottish Premiership menerapkan sistem split unik di paruh kedua musim yang menentukan juara, tiket Eropa, dan siapa yang terdegradasi. Begini cara kerjanya.
Scottish Premiership bukan liga biasa. Di penghujung musim, kompetisi tertinggi Skotlandia ini membelah diri menjadi dua grup terpisah lewat mekanisme yang dikenal sebagai the split — sistem yang langsung menentukan nasib setiap klub, dari perebutan gelar hingga ancaman degradasi.
Apa Itu "The Split"?
Scottish Premiership diikuti 12 klub. Selama fase pertama musim, semua tim bermain dalam format liga penuh, saling berhadapan tiga kali hingga total 33 pekan.
Setelah 33 pertandingan selesai, klasemen dipotong menjadi dua bagian. Enam tim teratas masuk ke Championship Round (grup atas), sementara enam tim terbawah bergabung ke Relegation Round (grup bawah).
Masing-masing grup kemudian memainkan lima pertandingan tambahan, melawan tim-tim di dalam grup mereka yang belum pernah dijadikan lawan. Total setiap tim menyelesaikan 38 pertandingan dalam satu musim.
Kenapa Poin Dibawa Sepenuhnya?
Poin yang sudah dikumpulkan selama 33 pekan pertama tidak direset. Seluruh poin terbawa penuh ke fase split. Ini artinya keunggulan atau ketertinggalan di puncak klasemen sebelum split langsung berpengaruh ke persaingan gelar dan Eropa.
Tim yang masuk grup atas dengan modal poin besar punya keuntungan jelas. Sebaliknya, tim yang terseret ke grup bawah dengan poin minim harus berjuang keras agar tidak terdegradasi.
Apa yang Diperebutkan di Grup Atas?
Di Championship Round, enam tim bersaing untuk empat hal sekaligus:
- Gelar juara Scottish Premiership — tim dengan poin terbanyak setelah 38 pekan.
- Tiket Liga Champions — diraih juara liga.
- Tiket Liga Europa — untuk runner-up dan posisi ketiga tergantung hasil.
- Tiket Liga Konferensi — bagi tim yang finis di posisi tertentu.
Persaingan juara antara Celtic dan Rangers secara historis selalu menjadi titik panas di fase ini. Selisih poin kecil menjelang split bisa membuat lima pertandingan terakhir terasa seperti final berulang.
Apa yang Terjadi di Grup Bawah?
Grup bawah adalah zona bertahan hidup. Dari enam tim yang berada di sana, ancaman paling nyata menanti di posisi terbawah.
Tim yang finis di posisi ke-11 (kedua dari bawah) masuk ke babak play-off melawan runner-up dari Championship — divisi kedua Skotlandia. Satu laga agregat, satu tempat di Premiership musim depan yang dipertaruhkan.
Tim yang finis paling bawah (posisi 12) langsung terdegradasi tanpa play-off.
Kenapa Sistem Ini Dibuat?
Scottish Premiership mengadopsi format split sejak era modern kompetisi ini diperkenalkan. Alasan utamanya sederhana: dengan hanya 12 tim, jadwal reguler saja tidak cukup untuk menjaga intensitas kompetisi hingga akhir musim.
Tanpa split, banyak pertandingan di penghujung musim menjadi tidak bermakna — tim tengah klasemen tidak bersaing untuk apapun. Dengan format ini, setiap posisi di 33 pekan pertama menentukan di mana sebuah klub akan berjuang di lima pekan terakhir.
Ada satu aturan tambahan yang kerap luput diperhatikan: jadwal pertandingan di fase split disusun sedemikian rupa sehingga laga terakhir musim dimainkan serentak. Ini mencegah adanya tim yang tahu persis hasil yang dibutuhkan sebelum turun ke lapangan di pekan pamungkas.
Dampak ke Persaingan Musim Ini
Format split membuat setiap pekan terasa krusial sejak jauh-jauh hari. Klub yang mengincar posisi enam besar harus konsisten, karena terpeleset ke grup bawah bukan hanya soal gengsi — tiket Eropa dan ancaman degradasi adalah taruhan nyata.
Bagi Celtic dan Rangers, split biasanya menjadi momen penentu. Jika salah satu dari keduanya membuka jarak signifikan sebelum split, tim lawan butuh hasil sempurna di lima pertandingan terakhir untuk berbalik. Jika keduanya masuk split dengan selisih tipis, gelar juara benar-benar ditentukan di lima laga terakhir itu.
Itulah mengapa the split bukan sekadar gimmick — ini adalah jantung kompetisi Scottish Premiership.