Zico Soree: Mesin Gol Kasta 4 Belanda Asal Mojokerto
Zico Soree, striker keturunan Mojokerto yang sempat membela Timnas Indonesia era Shin Tae-yong, kini tampil produktif sebagai pencetak gol di kompetisi kasta keempat Belanda.
Zico Soree bukan nama asing bagi penggemar Timnas Indonesia era Shin Tae-yong. Striker berdarah Mojokerto itu pernah mengenakan seragam Merah-Putih, namun kini namanya mulai bersinar di level klub — tepatnya sebagai pencetak gol produktif di kompetisi kasta keempat Belanda.
Dari Timnas ke Kasta Empat Belanda
Zico Soree adalah salah satu pemain diaspora yang sempat masuk radar pelatih Shin Tae-yong. Ia hadir di tengah gelombang naturalisasi dan pemanggilan pemain keturunan yang menjadi ciri khas era STY dalam membangun Timnas Indonesia.
Namun perjalanan kariernya di level timnas tidak berlanjut panjang. Ia kembali fokus ke karier klub di Belanda, dan justru di sinilah performa terbaiknya mulai terlihat. Bermain di kasta keempat liga Belanda, Zico tampil sebagai mesin gol yang konsisten mencetak angka untuk timnya.
Keturunan Mojokerto yang Tumbuh di Eropa
Zico Soree memiliki darah Indonesia dari jalur keluarga yang berakar di Mojokerto, Jawa Timur. Ia tumbuh dan berkembang di Belanda — negara yang memang memiliki komunitas diaspora Indonesia cukup besar sejak era kolonial.
Latar belakang itulah yang membuka jalan baginya untuk mendapat panggilan Timnas Indonesia. Federasi memanfaatkan regulasi FIFA terkait pemain keturunan, dan Zico menjadi salah satu nama yang dipertimbangkan untuk memperkuat skuad Garuda.
Perpaduan antara teknik sepak bola Eropa yang ia serap sejak muda dengan identitas Indonesia yang ia bawa menjadikan profilnya menarik — baik di mata pelatih timnas maupun pengamat sepak bola Indonesia.
Produktif di Level Akar Rumput Sepak Bola Belanda
Kasta keempat sepak bola Belanda bukan panggung kecil. Sistem kompetisi Belanda dikenal ketat dan terstruktur, bahkan di divisi bawah sekalipun. Pemain yang mampu mencetak gol secara konsisten di level ini membuktikan kualitas teknis yang tidak bisa diremehkan.
Zico Soree menunjukkan justru di level inilah ia menemukan ritme terbaiknya. Tajam di depan gawang, ia menjadi andalan tim dalam urusan mencetak gol. Penampilan produktifnya itu sekaligus menjaga namanya tetap relevan di perbincangan soal pemain diaspora Indonesia di Eropa.
Peluang Kembali ke Timnas?
Pertanyaan yang wajar muncul: apakah performa apik ini cukup untuk membawa Zico kembali ke radar Timnas Indonesia?
Skuad Garuda saat ini tengah dalam fase transisi pasca-era STY. Beberapa nama diaspora masih aktif dipantau federasi, dan rekam jejak Zico sebagai pemain yang pernah berseragam timnas tentu menjadi nilai tambah tersendiri.
Namun kompetisi untuk slot striker Timnas Indonesia terbilang sengit. Nama-nama seperti Ragnar Oratmangoen dan beberapa pemain muda berbakat lainnya turut bersaing. Zico perlu terus menjaga konsistensi — atau naik kasta di kompetisi klub — agar kembali masuk pertimbangan serius pelatih timnas.
Diaspora sebagai Aset Jangka Panjang
Kisah Zico Soree adalah gambaran nyata dari strategi besar sepak bola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir: memanfaatkan diaspora sebagai sumber daya yang selama ini belum tergarap maksimal.
Pemain-pemain keturunan yang tersebar di Eropa — terutama di Belanda, Belgia, dan Jerman — kini aktif dipantau. Tidak semua dari mereka bermain di liga top, namun konsistensi dan perkembangan karier tetap menjadi tolok ukur utama.
Zico Soree membuktikan bahwa produktivitas di level manapun tetap berbicara. Setiap gol yang ia cetak di kasta empat Belanda adalah argumen yang terus ia bangun — bahwa ia masih layak diperhitungkan untuk Merah-Putih.