Sundul
Liga Indonesia

Derby Jatim Arema vs Persebaya Ditutup untuk Kanjuruhan

Laga Arema FC kontra Persebaya Surabaya dipastikan tidak akan digelar di Stadion Kanjuruhan. Pertimbangan keamanan dan dampak psikologis korban Tragedi Kanjuruhan menjadi alasan utama.

Reza Pratama · 28 April 2026, 18:01 · 3 min baca

Duel panas Arema FC kontra Persebaya Surabaya — Derby Jawa Timur paling bergolak di BRI Liga 1 — dipastikan tidak akan berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Malang. Keputusan itu bukan tanpa alasan: keamanan laga dan kondisi psikologis para korban serta keluarga korban Tragedi Kanjuruhan menjadi pertimbangan utama yang tidak bisa diabaikan.

Kanjuruhan Tetap Menyimpan Luka

Tragedi 1 Oktober 2022 meninggalkan bekas yang dalam. Lebih dari 130 nyawa melayang di Kanjuruhan setelah laga Arema FC vs Persebaya berakhir rusuh. Sampai hari ini, stadion itu bukan sekadar infrastruktur olahraga — ia adalah tempat berkabung bagi ratusan keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta.

Mempertemukan kembali dua tim yang terlibat dalam tragedi tersebut, tepat di lokasi yang sama, dinilai terlalu berisiko. Bukan hanya soal logistik keamanan, tetapi juga soal kepantasan dan empati terhadap para penyintas.

Faktor Keamanan Tidak Bisa Dikompromikan

Derby Jatim selalu menghadirkan tensi tinggi. Rivalitas antara Aremania dan Bonek sudah berlangsung puluhan tahun, kerap diwarnai ketegangan di dalam maupun di luar stadion. Menggelar laga sekelas ini di Kanjuruhan — tempat yang secara simbolis maupun fisik masih berkaitan langsung dengan tragedi — membuka potensi insiden yang tak diinginkan.

Aparat keamanan dan pihak penyelenggara kompetisi memiliki tanggung jawab untuk memastikan tidak ada tragedi kedua. Memilih venue netral atau venue yang lebih terkontrol adalah langkah yang lebih aman secara operasional.

Dampak Psikologis Korban Jadi Pertimbangan Serius

Di luar kalkulasi keamanan teknis, ada dimensi kemanusiaan yang tidak boleh luput dari perhatian. Para penyintas dan keluarga korban masih menjalani proses pemulihan trauma yang panjang. Menghadirkan laga bersejarah yang memicu ingatan kelam itu kembali ke lokasi yang sama berpotensi memperparah kondisi psikologis mereka.

Pertimbangan ini mencerminkan sikap yang lebih dewasa dalam mengelola sepak bola pascatragedi — bahwa kompetisi tidak boleh berjalan di atas penderitaan yang belum sembuh sepenuhnya.

Posisi Arema di Klasemen dan Urgensi Laga

Di luar konteks historis yang berat itu, laga ini tetap memiliki bobot kompetitif yang tinggi. Arema FC saat ini berada di posisi 10 klasemen BRI Liga 1 dengan 39 poin dari 29 pertandingan — hasil 10 menang, 9 seri, dan 10 kalah. Form lima laga terakhir mereka: menang dua, seri dua, kalah satu (DWWDL).

Tekanan untuk meraih poin tetap ada. Gelandang Gustavo Franca menjadi salah satu sosok yang memompa semangat tim menjelang Derby Jatim ini. Franca menyebut kemenangan untuk Aremania adalah motivasi utama yang ia bawa setiap kali melangkah ke lapangan.

Persebaya, sebagai rival langsung, tentu juga datang dengan misi serupa. Derby ini bukan sekadar urusan gengsi, tetapi juga perebutan poin yang krusial menjelang akhir musim.

Laga Tetap Akan Digelar, Hanya Bukan di Kanjuruhan

Tidak digelarnya laga di Kanjuruhan bukan berarti Derby Jatim ini dibatalkan. Pihak penyelenggara akan menentukan venue alternatif yang memenuhi standar keamanan dan layak secara kapasitas. Detail venue dan jadwal pasti masih menunggu pengumuman resmi dari operator kompetisi.

Yang jelas, keputusan untuk tidak menggunakan Kanjuruhan sebagai venue laga Arema vs Persebaya adalah langkah yang tepat — sebuah pengakuan bahwa ada nilai yang lebih besar dari sekadar keuntungan finansial atau keuntungan bermain di kandang sendiri.

Sepak bola Indonesia sedang dalam proses panjang memulihkan kepercayaan publik pascatragedi. Keputusan ini, kecil atau besar, adalah bagian dari proses tersebut.

#Arema Fc #Bri Liga 1 #Persebaya Surabaya #Derby Jatim #Stadion Kanjuruhan #Tragedi Kanjuruhan