Sundul
Liga Indonesia

Arema FC Didesak Pecat 2 Nama Usai Kalah dari Persebaya

Kekalahan telak Arema FC dari Persebaya memicu sorotan tajam dari internal pendukung. Dua nama di tubuh tim didesak keluar.

Fajar Hidayat · 29 April 2026, 00:30 · 3 min baca

Kekalahan telak Arema FC dari rival sekota Persebaya Surabaya kembali memantik amarah dari kubu Aremania. Dua nama di internal klub langsung mendapat desakan untuk segera dilepas, sementara posisi Singo Edan di klasemen BRI Liga 1 2024/2025 kian mengkhawatirkan.

Hasil yang Mempermalukan di Derbi Jatim

Kekalahan dari Persebaya bukan sekadar angka di papan skor. Bagi Aremania, ini adalah derbi — dan kalah telak di laga seperti ini adalah luka yang lebih dalam dari sekadar tiga poin melayang.

Penampilan Arema FC dalam laga tersebut dinilai jauh dari standar. Lini pertahanan keropos, transisi menyerang lamban, dan tidak ada respons taktis yang berarti dari bangku cadangan sepanjang pertandingan berjalan.

Dua Nama Jadi Sorotan, Desakan Mundur Menguat

Tekanan publik langsung tertuju pada dua figur di dalam klub. Meski nama keduanya tidak diumumkan secara resmi oleh manajemen, gelombang desakan dari komunitas suporter makin keras setelah hasil derby ini.

Kritik bukan hanya soal hasil akhir, melainkan juga menyangkut pola permainan yang dianggap stagnan dan tidak menunjukkan perkembangan berarti dari pekan ke pekan. Aremania menilai sudah cukup waktu diberikan, dan hasilnya belum memuaskan.

Desakan mundur ini menjadi sinyal serius bahwa kesabaran pendukung Arema FC sudah mendekati batas.

Kondisi Klasemen Makin Menekan

Data klasemen BRI Liga 1 mempertegas betapa genting situasi Arema FC saat ini. Dari 30 pertandingan yang telah dimainkan, Singo Edan mengoleksi 39 poin — hasil dari 10 kemenangan, 9 imbang, dan 11 kekalahan.

Arema berada di peringkat 11 klasemen sementara. Selisih gol pun tidak menggembirakan: 40 gol tercipta berbanding 41 gol kemasukan. Artinya, pertahanan Arema nyaris bocor satu gol per pertandingan.

Tren form lima laga terakhir — L, D, W, W, D — menunjukkan ketidakkonsistenan yang menjadi masalah kronis sepanjang musim ini. Dua kemenangan beruntun sempat memberi harapan, namun kekalahan di derby menghapus momentum itu.

Rekor Kandang dan Tekanan Sisa Musim

Arema FC masih menyisakan beberapa laga di akhir musim. Dengan posisi di papan tengah, target finis di zona aman secara matematis masih terbuka. Namun kualitas permainan yang ditampilkan jauh dari meyakinkan untuk bisa berbicara banyak di sisa kompetisi.

Catatan 40 gol dari 30 laga memang cukup produktif untuk ukuran lini serang. Namun kebobolan 41 gol memperlihatkan bahwa masalah struktural di lini belakang belum terpecahkan secara tuntas.

Tekanan dari Aremania akan semakin besar apabila performa tidak segera membaik di laga-laga berikutnya. Manajemen kini berada di persimpangan: bertahan dengan komposisi yang ada, atau mengambil keputusan tegas sebelum musim ini benar-benar tutup buku.

Manajemen Dituntut Bertindak Cepat

Suara dari tribun dan media sosial Aremania semakin bulat. Mereka tidak hanya menuntut perubahan hasil, tetapi perubahan nyata dalam struktur tim dan pengambilan keputusan.

Kekalahan dari Persebaya dalam konteks derby Jatim selalu membawa konsekuensi psikologis yang besar. Bagi Arema FC yang sudah terseok-seok di papan tengah musim ini, hasil seperti ini bisa menjadi titik balik — ke arah yang lebih baik atau lebih buruk, tergantung respons manajemen dalam waktu dekat.

Keputusan soal dua nama yang didesak keluar itu ada di tangan petinggi klub. Semakin lama ditunda, semakin besar tekanan yang akan menumpuk.

#Arema Fc #Bri Liga 1 #Klasemen Liga 1 #Persebaya #Derby Jatim #Aremania