PSSI Lobi Klub Marselino untuk SEA Games, Justin Hubner Belum Masuk Radar
PSSI melalui Ketua BTN masih aktif melobi klub Marselino Ferdinan agar bisa tampil di SEA Games 2025, sementara Justin Hubner belum diajak dalam proses negosiasi tersebut.
PSSI belum menyerah mendatangkan Marselino Ferdinan ke skuad Timnas U-22 untuk SEA Games 2025. Ketua Bidang Tim Nasional (BTN) PSSI diketahui masih aktif melakukan pendekatan ke klub yang menaungi gelandang serang 21 tahun itu. Sementara Justin Hubner, nama yang selalu disebut bersama Marselino dalam diskusi penguatan timnas, belum masuk dalam proses lobi tahap ini.
Lobi Klub Marselino Masih Berlangsung
Ketua BTN PSSI mengonfirmasi proses negosiasi dengan klub Marselino masih berjalan. Pemain kelahiran Sidoarjo ini memperkuat klub di luar negeri, sehingga izin pelepasan menjadi kewenangan penuh manajemen klub bersangkutan.
SEA Games bukan masuk kalender FIFA matchday, artinya klub tidak memiliki kewajiban melepas pemain. Di sinilah PSSI harus bermain di jalur diplomasi dan negosiasi, bukan jalur regulasi.
Marselino adalah salah satu pemain paling krusial yang diharapkan memperkuat Timnas U-22. Kontribusinya di level senior sudah teruji, dan kehadirannya di SEA Games dinilai bisa menjadi pembeda bagi tim asuhan pelatih kepala.
Justin Hubner Belum Diajak Bicara
Berbeda dengan Marselino, nama Justin Hubner belum masuk dalam tahap lobi yang sedang berjalan. Bek berdarah Indonesia-Belanda yang bermain di Eropa ini memang kerap dikaitkan dengan agenda timnas, namun untuk SEA Games 2025, PSSI belum membuka komunikasi resmi dengan klubnya.
Belum jelasnya posisi Justin dalam rencana skuad SEA Games membuka pertanyaan soal prioritas PSSI: apakah federasi memilih fokus ke pemain yang lebih realistis untuk dilobi lebih dulu, ataukah ada pertimbangan lain soal komposisi tim.
Justin sendiri masih berusia di bawah batas usia SEA Games, sehingga secara regulasi memenuhi syarat untuk diturunkan jika izin klub bisa diperoleh.
Tantangan Pelepasan Pemain di Luar Kalender FIFA
Ini bukan pertama kali PSSI menghadapi dilema serupa. Setiap kali turnamen di luar jendela FIFA matchday digelar, klub asing hampir selalu mempersulit atau bahkan menolak pelepasan pemain. Risiko cedera, kepadatan jadwal kompetisi domestik, hingga kepentingan kontrak menjadi argumen standar yang diajukan klub.
SEA Games 2025 dijadwalkan berlangsung, dan timnas U-22 Indonesia dibebani target medali emas untuk kembali meneruskan tradisi yang sempat terputus. Tekanan ini yang mendorong PSSI bekerja keras mencari celah agar pemain-pemain terbaik bisa hadir.
Tanpa kehadiran pemain diaspora berkualitas seperti Marselino dan Justin, pelatih harus meramu skuad dari pemain yang klublya bersedia melepas, mayoritas dari Liga 1 dan kompetisi Asia Tenggara.
Opsi Skuad Jika Negosiasi Gagal
Jika lobi Marselino tidak membuahkan hasil, BTN harus segera mengalihkan fokus ke alternatif lain. Sejumlah nama dari skuad senior maupun pemain muda Liga 1 yang masuk radar pelatih bisa menjadi opsi cadangan.
Miliano Jonathans disebut sebagai salah satu nama yang juga berpeluang masuk pertimbangan untuk slot di lini serang atau sayap. Kedalaman skuad menjadi pekerjaan rumah besar BTN dalam waktu yang terus menyempit.
Kepastian nama-nama yang masuk skuad dibutuhkan segera agar pelatih punya waktu cukup untuk merancang strategi, menjalani pemusatan latihan, dan membangun chemistry tim sebelum turnamen dimulai.
Waktu Terus Berjalan
Setiap hari yang berlalu tanpa kepastian adalah tekanan tambahan bagi BTN dan pelatih timnas U-22. Proses lobi yang berlarut berisiko memotong waktu persiapan teknis yang sudah sangat terbatas.
PSSI berharap komunikasi dengan klub Marselino bisa rampung dalam waktu dekat. Sementara untuk Justin Hubner, federasi kemungkinan akan membuka pendekatan resmi setelah progres negosiasi Marselino menjadi lebih jelas.
Indonesia menargetkan tampil kompetitif di SEA Games 2025, dan kehadiran pemain-pemain terbaik adalah syarat minimum untuk bicara soal medali emas.