Sundul
Liga Indonesia

Marcos Santos Amuk Persebaya, Aremania Merasa Dinodai

Aksi provokatif Marcos Santos usai laga panas melawan Persebaya memantik kemarahan Aremania. Rivalitas Derby Jawa Timur kembali memanas di luar lapangan.

Dimas Wirawan · 29 April 2026, 11:39 · 3 min baca

Arema FC kembali menjadi sorotan bukan hanya karena performa di atas lapangan, tetapi juga insiden yang melibatkan pemain asing mereka, Marcos Santos. Aksi pemain asal Brasil itu dinilai melampaui batas oleh Aremania setelah laga Derby Jawa Timur melawan Persebaya Surabaya — memicu gelombang kecaman dari basis suporter Singo Edan.

Apa yang Dilakukan Marcos Santos?

Marcos Santos melakukan gestur dan perilaku yang dianggap provokatif setelah laga kontra Persebaya. Alih-alih meredam ketegangan rivalitas paling panas di Indonesia itu, tindakannya justru dianggap memperkeruh suasana. Aremania menyebut kelakuan Santos sebagai penghinaan terhadap identitas dan kebanggaan mereka sebagai suporter Arema FC.

Insiden ini langsung viral dan menjadi topik terpanas di media sosial, dengan tagar terkait Arema dan Persebaya mendominasi perbincangan warganet selama beberapa jam.

Aremania: "Kami Merasa Dinodai"

Sejumlah perwakilan Aremania menyuarakan kekecewaan mendalam. Mereka menilai seorang pemain profesional seharusnya menjaga sikap, terutama dalam konteks Derby Jawa Timur yang memiliki muatan emosional sangat tinggi di kedua kubu.

"Kami sudah mendukung tim ini dalam suka dan duka. Tindakan seperti ini bukan hanya mempermalukan klub, tapi menodai seluruh keluarga besar Arema," ujar salah satu koordinator suporter.

Desakan agar manajemen Arema FC bersikap tegas terhadap Santos pun menguat. Sebagian Aremania meminta klub memberikan sanksi internal, bahkan ada yang menuntut pemutusan kontrak sang pemain.

Posisi Arema FC di Klasemen BRI Liga 1

Insiden ini terjadi di tengah musim yang berat bagi Arema. Dari 30 pertandingan yang sudah dilakoni, Singo Edan mengoleksi 39 poin — hasil dari 10 kemenangan, 9 imbang, dan 11 kekalahan. Mereka kini berada di posisi 11 klasemen BRI Liga 1.

Catatan gol pun tidak mengesankan: 40 gol tercipta, sementara 41 gol bersarang di gawang mereka. Defisit selisih gol minus satu itu mencerminkan ketidakstabilan yang sudah berlangsung sepanjang musim. Forma terkini — kalah, imbang, menang, menang, imbang (LDWWD) — menunjukkan tim sedang mencoba bangkit, tapi belum konsisten.

Kekalahan 3-4 dari Bali United pada 28 April lalu semakin memperdalam kekhawatiran Aremania soal arah tim musim ini. Bali United naik ke posisi 8 berkat kemenangan dramatis itu, sedangkan Arema tetap terpaku di papan tengah.

Derby Jawa Timur dan Beban Emosional Suporter

Derby Jawa Timur antara Arema FC dan Persebaya Surabaya bukan sekadar laga sepak bola. Ini adalah pertarungan identitas dua kota, dua komunitas, dan dua budaya suporter yang sudah berlangsung puluhan tahun. Ketegangan di luar lapangan kerap sama panasnya — bahkan melebihi — apa yang terjadi di dalam lapangan.

Dalam konteks itulah tindakan Marcos Santos dibaca lebih dari sekadar gestur spontan. Bagi Aremania, setiap pemain yang mengenakan jersey Singo Edan menanggung tanggung jawab representasi kolektif. Ketika seorang pemain dinilai melampaui batas kesopanan dalam rivalitas ini, reaksi keras dari suporter adalah konsekuensi yang hampir pasti terjadi.

Manajemen Arema FC Harus Bersikap

Tekanan kini ada di tangan manajemen Arema FC. Sikap diam bisa diartikan sebagai pembiaran, sementara tindakan tegas akan memberi sinyal bahwa klub menghargai perasaan suporternya.

Arema masih punya beberapa pekan sisa BRI Liga 1 untuk menyelamatkan posisi di papan tengah sekaligus memulihkan kepercayaan Aremania. Dengan 39 poin dari 30 laga, ancaman degradasi masih jauh — namun stabilitas tim, baik di dalam maupun di luar lapangan, jelas menjadi pekerjaan rumah yang mendesak untuk diselesaikan.

#Arema Fc #Bri Liga 1 #Persebaya #Derby Jawa Timur #Marcos Santos #Aremania