Mexico 1986: Edisi Maradona yang Membawa Argentina ke Trofi Kedua
Piala Dunia 1986 di Mexico jadi edisi Diego Maradona, yang memimpin Argentina memenangi trofi kedua dengan dua gol legendaris ke gawang Inggris di perempat final.
Piala Dunia 1986 di Mexico dianggap salah satu edisi paling diingat dalam sejarah, terutama karena performa Diego Maradona yang membawa Argentina memenangi trofi kedua. Edisi ini dipenuhi drama, gol legendaris, dan momen yang masih dibahas pelatih dan akademisi sepak bola hampir empat dekade kemudian.
Mexico mengambil alih hosting di menit terakhir setelah Kolombia (yang awalnya ditunjuk) menarik diri karena masalah ekonomi. Mexico menjadi negara pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia dua kali, setelah edisi 1970. Estadio Azteca jadi venue laga pembuka, dan final pada 29 Juni 1986.
Tangan Tuhan dan Gol Abad Ini
Pertandingan paling diingat dari edisi 1986: perempat final Argentina vs Inggris di Estadio Azteca pada 22 Juni 1986. Maradona mencetak dua gol di pertandingan ini yang sama-sama legendaris tetapi dengan alasan berbeda. Pertama, "Tangan Tuhan" pada menit ke-51, ketika dia menggiring bola dengan tangan ke gawang setelah duel udara dengan kiper Inggris Peter Shilton. Wasit tidak melihat pelanggaran (tidak ada VAR saat itu), gol disahkan.
Empat menit kemudian, "Gol Abad Ini" lahir. Maradona menggiring bola dari setengah lapangan sendiri, melewati lima pemain Inggris (Glenn Hoddle, Peter Reid, Terry Butcher dua kali, Terry Fenwick), dan menyelesaikan dengan tembakan ke gawang kosong setelah memutar Shilton. Gol ini, dipuji FIFA pada 2002 sebagai "gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia," masih jadi referensi kualitas individu sepak bola.
Skuad Argentina 1986
Maradona dipilih sebagai kapten oleh pelatih Carlos Bilardo. Skuad Argentina 1986 dianggap "tim satu pemain"—Maradona melakukan banyak hal sendiri, dengan dukungan dari pemain seperti Jorge Burruchaga (Nantes), Jorge Valdano (Real Madrid), dan Sergio Batista (Argentinos Juniors). Kombinasi kualitas individu Maradona dengan disiplin kolektif Bilardo jadi formula kemenangan.
Performa Maradona di edisi 1986: 5 gol dan 5 assist di tujuh pertandingan, golden ball sebagai pemain terbaik turnamen. Dominasi individual yang mungkin tidak ada bandingannya dalam sejarah Piala Dunia, walau Pelé 1970 mendekati. Perbedaan: Pelé didukung skuad legendaris, Maradona memimpin tim biasa-biasa saja ke trofi.
Final Argentina vs Jerman Barat
Final 1986 mempertemukan Argentina dengan Jerman Barat di Estadio Azteca pada 29 Juni 1986. Argentina memimpin 2-0 di babak pertama lewat gol Jose Luis Brown (menit 23) dan Jorge Valdano (menit 56). Jerman Barat membalas dengan gol Karl-Heinz Rummenigge (menit 74) dan Rudi Voller (menit 80) untuk menyamakan 2-2.
Drama final 1986 berlangsung sampai menit ke-83, ketika Maradona memberikan umpan terobosan untuk Burruchaga yang menyelesaikan dengan tembakan ke pojok gawang. Gol kemenangan 3-2 mengamankan trofi Argentina kedua setelah edisi 1978 di kandang sendiri. Suporter Argentina di Estadio Azteca, dan jutaan di seluruh dunia, menyaksikan momen yang menjadi puncak karier Maradona.
Warisan dan Kontroversi
Edisi 1986 dipenuhi kontroversi, terutama "Tangan Tuhan" yang masih jadi diskusi 40 tahun kemudian. Maradona sendiri terbuka mengakui pelanggaran tersebut, walau menyebutnya sebagai "Tangan Tuhan" yang membantu Argentina. Untuk Inggris, kekalahan ini jadi luka yang lama sembuh, terutama mengingat konteks politik (Perang Falklands antara Inggris dan Argentina baru selesai 4 tahun sebelumnya).
Bagi Argentina, edisi 1986 adalah era keemasan Maradona. Setelah pensiun pada 1997, Maradona meninggal pada November 2020 di Buenos Aires, sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-60. Kematian Maradona mengguncang Argentina dan dunia sepak bola. Lionel Messi, yang membawa Argentina memenangi Piala Dunia 2022 di Qatar, sering disebut sebagai successor Maradona, walau gaya main keduanya sangat berbeda.