Italia 1990: Edisi Schillaci dan Tragedi Tuan Rumah
Piala Dunia 1990 di Italia jadi edisi yang dipenuhi pertahanan ketat dan permainan defensif. Salvatore Schillaci jadi top skor mengejutkan, walau Italia kalah dari Argentina di semifinal lewat adu penalti.
Piala Dunia 1990 di Italia dianggap edisi paling defensif dalam sejarah modern Piala Dunia. Rata-rata gol per pertandingan hanya 2,21, terendah sejak format Piala Dunia diperluas. Walau dianggap "kurang menarik" secara permainan, edisi 1990 punya banyak narasi: Salvatore Schillaci jadi top skor mengejutkan, Italia kalah di semifinal adu penalti dari Argentina, dan Jerman Barat memenangi trofi dengan generasi yang dipimpin Lothar Matthaeus.
Edisi 1990 berlangsung di 12 kota Italia: Roma, Milan, Napoli, Florence, Turin, Genoa, Bologna, Verona, Bari, Cagliari, Udine, dan Palermo. Stadion ikonis seperti Stadio Olimpico Roma dan San Siro Milan jadi venue utama. Format 24 tim dengan 6 grup berisi 4 tim. Total 52 pertandingan dalam 31 hari.
Schillaci, Bintang Tak Terduga
Salvatore Schillaci, striker Juventus berusia 25 tahun, masuk skuad Italia 1990 sebagai pelapis. Toto Schillaci tidak banyak dikenal di luar Italia sebelum turnamen. Tetapi performa di edisi ini mengubah kariernya: dia mencetak 6 gol di tujuh pertandingan, top skor turnamen, plus golden ball sebagai pemain terbaik.
Pelatih Italia Azeglio Vicini awalnya memasang Vialli dan Carnevale sebagai striker. Tetapi setelah keduanya gagal mencetak gol di laga pembuka, Schillaci diberi kesempatan starting. Dia mencetak gol di setiap pertandingan grup setelah masuk starting. Bersama Roberto Baggio, dia membentuk lini depan Italia yang efektif walau tidak spektakuler.
Italia Kalah di Semifinal
Italia di Piala Dunia 1990 sebagai tuan rumah memiliki ekspektasi besar. Perjalanan tim ke semifinal mulus: lolos sebagai juara grup, mengalahkan Uruguay dan Republik Irlandia di babak knockout. Semifinal melawan Argentina di Stadio San Paolo Naples pada 3 Juli 1990 jadi laga penentuan.
Schillaci mencetak gol pembuka menit ke-17, memberi Italia keunggulan. Argentina menyamakan menit ke-67 lewat Claudio Caniggia. Pertandingan berakhir 1-1 di waktu normal dan extra time, mengirim ke adu penalti. Argentina menang 4-3 di adu penalti, dengan Diego Maradona dan Roberto Donadoni mengeksekusi sukses tetapi Carnevale dan Donadoni Italia gagal. Stadion San Paolo terkejut: Maradona, yang main untuk Napoli di tingkat klub, mengalahkan tuan rumah di stadion klubnya sendiri.
Final Jerman Barat vs Argentina
Final Piala Dunia 1990 mempertemukan Jerman Barat dengan Argentina di Stadio Olimpico Roma pada 8 Juli 1990. Pertandingan dianggap salah satu final paling antiklimaks dalam sejarah Piala Dunia, dengan Argentina bermain dengan blok pertahanan rendah dan dua kartu merah (Pedro Monzon menit 65, Gustavo Dezotti menit 87).
Andreas Brehme mencetak gol kemenangan menit ke-85 dari titik penalti, gol satu-satunya pertandingan. Jerman Barat juara dengan skor 1-0, trofi ketiga dalam sejarah federasi. Bagi Lothar Matthaeus, kapten dan gelandang sentral Jerman Barat, edisi 1990 jadi puncak karier. Dia mendapat golden ball sebagai pemain terbaik turnamen, walau Schillaci sebagai top skor.
Tradisi Italia di Piala Dunia
Italia memenangi Piala Dunia empat kali (1934, 1938, 1982, 2006). Edisi 1990 sebagai tuan rumah dengan kekalahan di semifinal jadi luka yang lama sembuh. Generasi 1982 yang dipimpin Paolo Rossi sudah memenangi trofi, tetapi generasi 1990 dengan Schillaci, Baggio, dan Maldini gagal mencapai puncak.
Edisi 2026, Italia tidak akan tampil setelah dikalahkan Bosnia di playoff UEFA. Untuk negara dengan empat trofi Piala Dunia, edisi ketiga beruntun absen jadi luka historis. Generasi pelatih Italia di klub Eropa (Antonio Conte, Massimiliano Allegri, Carlo Ancelotti) sukses, tetapi tim nasional belum kembali ke level kompetitif. Edisi 2026 akan tanpa Italia di pesta akbar global.