Matheus Blade Akui Kekalahan Memalukan Arema dari Persebaya
Arema FC dihajar Persebaya 0-4 di kandang sendiri dalam derbi Jatim yang berakhir memalukan. Gelandang Matheus Blade mengakui kekalahan itu menyakitkan.
Arema FC menelan kekalahan telak 0-4 dari Persebaya Surabaya di kandang sendiri, Stadion Kanjuruhan, dalam laga Derbi Jatim BRI Liga 1. Gelandang Arema FC, Matheus Blade, tidak menutup-nutupi rasa malu yang ia rasakan usai pertandingan yang berakhir tragis itu.
Hasil yang Menyakitkan di Depan Publik Sendiri
Kekalahan 0-4 di kandang sendiri bukan sekadar hasil buruk biasa. Ini adalah derbi — laga yang paling ditunggu-tunggu oleh Aremania maupun Bonek, dua basis suporter terbesar di Jawa Timur. Menelan empat gol tanpa balas di hadapan pendukung sendiri menjadi luka yang sulit cepat sembuh.
Matheus Blade, salah satu gelandang andalan Singo Edan, mengakui bahwa kekalahan ini benar-benar memalukan. Ia tidak mencari alasan atas apa yang terjadi di lapangan. Pemain asal Brasil itu menyebut hasil ini harus menjadi cermin bagi seluruh skuad untuk bangkit dan memperbaiki diri.
Arema Terpuruk di Papan Tengah
Kekalahan ini semakin memperburuk posisi Arema di klasemen BRI Liga 1. Saat ini, Arema berada di peringkat 11 dengan 39 poin dari 30 laga yang telah dimainkan — catatan 10 menang, 9 imbang, dan 11 kalah. Selisih gol pun negatif, dengan 40 gol tercipta berbanding 41 kemasukan.
Tren form terakhir Arema terbaca L-D-W-W-D, artinya kekalahan dari Persebaya ini merupakan titik terendah dalam rangkaian lima laga terakhir mereka. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari zona merah, Arema tidak punya banyak ruang untuk terus tersandung di sisa musim.
Taktik Marcos Santos Dipertanyakan
Kekalahan besar ini kembali menyorot strategi yang diterapkan pelatih Arema, Marcos Santos. Dalam derbi sekelas ini, penguasaan taktik dan kesiapan mental pemain menjadi kunci — dan keduanya tampak tidak berjalan sesuai rencana di Kanjuruhan.
Persebaya tampil jauh lebih terorganisir dan efisien. Empat gol yang bersarang ke gawang Arema mencerminkan dominasi yang tidak berhasil dibendung oleh lini pertahanan Singo Edan. Pertanyaan soal siapa yang paling bertanggung jawab atas hasil ini tidak bisa dihindari, baik di ruang ganti maupun di tribun penonton.
Matheus Blade dan Tanggung Jawab Kolektif
Sebagai salah satu pemain senior di lini tengah, Matheus Blade berada di garis terdepan dalam menerima kritik. Gelandang tersebut memilih bersikap jujur daripada defensif. Pengakuan terbuka soal rasa malu itu, di satu sisi, menunjukkan kedewasaan — namun di sisi lain juga menegaskan betapa dalamnya luka dari laga ini.
Aremania tentu berharap pengakuan itu tidak berhenti di kata-kata. Sisa pertandingan musim ini menjadi kesempatan Matheus Blade dan rekan-rekannya untuk membuktikan bahwa kekalahan dari Persebaya benar-benar menjadi titik balik, bukan sekadar momen yang berlalu begitu saja.
Pekerjaan Rumah Besar Menjelang Akhir Musim
Dengan posisi di peringkat 11 dan selisih gol yang masih negatif, Arema harus menutup musim ini dengan konsistensi yang belum pernah mereka tunjukkan secara penuh sepanjang kompetisi berjalan. Skuad Singo Edan perlu segera menemukan kembali soliditas lini pertahanan dan ketajaman di depan gawang lawan.
Derbi Jatim kali ini menjadi pengingat keras bahwa rivalitas tidak memberi ruang bagi tim yang datang tanpa kesiapan penuh. Kini, beban ada di pundak seluruh pemain, pelatih, dan manajemen Arema untuk memastikan kekalahan 0-4 ini tidak terulang — dalam bentuk apapun.