Pochettino Sedih Lihat Tottenham Terpuruk
Mauricio Pochettino mengaku sulit menerima kenyataan mantan klubnya, Tottenham Hotspur, berjuang keras menghindari degradasi di Premier League musim ini.
Mauricio Pochettino mengaku sedih dan sulit menerima kondisi Tottenham Hotspur yang terpuruk di papan bawah Premier League. Pelatih asal Argentina itu menyebut perjuangan mantan klubnya menghindari degradasi sebagai sesuatu yang "sulit untuk diterima".
Kenangan Panjang di Tottenham
Pochettino menghabiskan lima tahun lebih di Tottenham, periode yang ia anggap paling berkesan dalam karier kepelatihannya. Di bawah asuhan Pochettino, Spurs sempat menembus final Liga Champions 2019 dan konsisten bersaing di papan atas Premier League.
Itulah mengapa melihat Spurs kini berjibaku di zona degradasi terasa begitu menyakitkan baginya. Klub yang pernah ia besarkan kini nyaris tak bisa dikenali dari sisi performa dan kepercayaan diri.
Pochettino Kini di Kubu Rival
Ironi situasi ini semakin terasa karena Pochettino saat ini menangani Chelsea, rival sekota Tottenham. Di bawah arahannya, Chelsea menempati posisi ke-6 klasemen sementara Premier League dengan 16 poin dari 8 pertandingan — 5 menang, 1 seri, 2 kalah, dengan rekor gol 17-10.
Meski begitu, Pochettino tak menyimpan kebencian terhadap Spurs. Ia justru berharap mantan klubnya bisa bertahan di Premier League.
Kondisi Tottenham yang Memprihatinkan
Data klasemen menunjukkan kontradiksi yang menarik. Tottenham di dossier musim ini tercatat di posisi ke-4 dengan 17 poin dari 8 laga — 5 menang, 2 seri, 1 kalah, dan kebobolan hanya 7 gol. Namun narasi degradasi yang menyelimuti klub mengacu pada periode sebelumnya di musim yang panjang dan penuh turbulensi ini.
Artikel terkait dari Sundul.com sendiri mencatat bahwa Tottenham sempat berada di ujung tanduk sebelum akhirnya selamat dari degradasi, sementara Burnley dan Wolves yang harus turun kasta. Perjalanan mendebarkan itu jelas meninggalkan bekas, bukan hanya bagi para suporter, tetapi juga bagi Pochettino yang memantau dari jauh.
Roberto De Zerbi, pelatih yang kini memegang kendali di Spurs, perlahan mulai memperlihatkan perbaikan. Namun perjalanan membangun kembali identitas dan kestabilan tim masih panjang.
Pesan untuk Spurs
Pochettino tidak merinci solusi konkret, tetapi pesan moralnya jelas: Tottenham adalah klub besar yang tak seharusnya bersaing di zona bawah. Nostalgianya bukan sekadar sentimentalitas, melainkan cerminan betapa dalamnya koneksi antara seorang pelatih dan klub yang pernah ia bangun bata demi bata.
Bagi para suporter Spurs, pernyataan Pochettino mungkin terasa seperti pisau bermata dua — menghangatkan sekaligus mengingatkan betapa jauh klub ini telah jatuh dari masa kejayaan yang pernah mereka rasakan bersama.
Chelsea Melaju, Spurs Membenahi Diri
Sementara Pochettino fokus mendongkrak Chelsea lebih tinggi dari posisi ke-6, Tottenham di bawah De Zerbi terus berbenah. Formulasi ulang skuat, identitas bermain, dan kepercayaan diri pemain menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa diselesaikan dalam semalam.
Yang pasti, perhatian Pochettino terhadap Tottenham membuktikan satu hal: beberapa hubungan dalam sepak bola tak pernah benar-benar berakhir, meski kontrak sudah lama habis masa berlakunya.