Sundul
Liga Indonesia

Aremania Luruk Pemain Arema FC Usai Kalah 0-4

Sejumlah Aremania mendatangi sesi latihan Arema FC dan mengonfrontasi para pemain, sehari setelah kekalahan telak 0-4 dari Persebaya Surabaya dalam derbi Jawa Timur.

Naila Sari · 01 Mei 2026, 13:31 · 3 min baca

Kemarahan Aremania belum reda. Sehari setelah Arema FC dihajar Persebaya Surabaya dengan skor telak 0-4 dalam derbi Jawa Timur, sejumlah suporter Singo Edan mendatangi lokasi latihan dan mengonfrontasi langsung para pemain usai sesi berakhir.

Aksi luapan emosi itu menjadi dampak langsung dari kekalahan yang dinilai memalukan, terlebih karena lawan adalah rival abadi dari Surabaya. Kekalahan 0-4 membuat malu tidak hanya manajemen dan pelatih, tetapi juga basis suporter yang dikenal setia dan fanatik.

Aremania Tak Terima Kekalahan Memalukan

Insiden terjadi di fasilitas latihan Arema FC ketika para pemain baru saja menuntaskan sesi. Sejumlah Aremania masuk dan secara langsung mengungkapkan kekecewaan mereka kepada skuad. Suasana memanas sebelum akhirnya situasi dapat dikendalikan.

Kekalahan 0-4 dari Persebaya bukan sekadar angka buruk biasa. Dalam konteks rivalitas Arema-Persebaya, hasil itu meninggalkan luka lebih dalam. Empat gol tanpa balas di depan publik yang menyaksikan derbi adalah sesuatu yang sulit ditelan oleh pendukung setia Singo Edan.

Manajemen Arema FC sebelumnya sudah menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada Aremania atas kekalahan tersebut. Namun permintaan maaf tertulis rupanya tidak cukup untuk meredam amarah sebagian suporter yang merasa tim kesayangannya tampil jauh di bawah standar.

Posisi Arema di Klasemen Kian Tertekan

Kekalahan itu juga semakin memperburuk posisi Arema FC di klasemen BRI Liga 1. Saat ini Arema berada di peringkat 10 dengan 39 poin dari 30 pertandingan, hasil dari 10 kemenangan, 9 imbang, dan 11 kekalahan.

Catatan gol juga memprihatinkan: 40 gol tercipta, 41 kemasukan. Arema praktis kebobolan lebih banyak dari yang mereka cetak sepanjang musim. Lima laga terakhir mereka mencatat tren naik-turun dengan formasi LDWWD, tetapi kekalahan telak dari Persebaya jelas menjadi titik terendah dalam periode itu.

Dengan sisa pertandingan musim yang terbatas, Arema tidak lagi memiliki ruang untuk terus tersandung. Setiap poin menjadi krusial, dan performa semalam adalah kemunduran yang signifikan.

Derbi Jawa Timur Selalu Bertaruhan Lebih dari Tiga Poin

Laga Arema kontra Persebaya bukan pertandingan biasa. Ini adalah salah satu rivalitas terpanas di sepak bola Indonesia, di mana hasil di lapangan langsung berimbas pada dinamika di luar lapangan. Kekalahan sebesar 0-4 dalam konteks ini membawa konsekuensi sosial yang jauh melampaui urusan klasemen.

Bagi Aremania, melihat tim mereka dikoyak empat gol tanpa balas oleh Persebaya adalah penghinaan kolektif yang mereka rasakan secara personal. Itulah yang mendorong sebagian dari mereka untuk turun langsung dan menuntut pertanggungjawaban para pemain.

Ancaman Stabilitas Internal Skuad

Insiden seperti ini berpotensi mengganggu stabilitas psikologis skuad. Pemain yang dihadapkan langsung dengan kemarahan suporter usai kekalahan besar berisiko kehilangan kepercayaan diri, justru di saat mereka paling membutuhkan ketenangan untuk bangkit.

Manajemen dan pelatih Arema FC kini menghadapi tantangan ganda: memulihkan performa tim di lapangan sekaligus menjaga kondisi mental pemain dari tekanan eksternal yang kian besar. Jika tidak ditangani dengan tepat, situasi ini bisa berulang bahkan memburuk.

Kekalahan 0-4 dari Persebaya sudah cukup menjadi pukulan keras. Insiden pasca-latihan ini menambah beban berat yang harus segera diselesaikan Arema FC sebelum mereka kembali turun ke lapangan.

#Arema Fc #Liga 1 #Bri Liga 1 #Persebaya #Derby Jawa Timur #Aremania