Akar Masalah PSM Makassar Kalah 0-2 dari Bali United
PSM Makassar takluk 0-2 dari Bali United di BRI Liga 1, memperdalam krisis tim Juku Eja yang kini terpuruk di posisi 14 klasemen dengan hanya 31 poin dari 30 laga.
PSM Makassar menelan kekalahan 0-2 dari Bali United pada pekan ke-30 BRI Liga 1, Minggu, 27 April 2026. Hasil ini semakin memperburuk posisi Juku Eja di klasemen — kini bertengger di peringkat 14 dengan 31 poin, jauh dari zona aman yang sesungguhnya diharapkan manajemen di awal musim.
Statistik yang Berbicara Keras
Dari 30 pertandingan yang sudah dilakoni, PSM hanya mampu menang 7 kali, imbang 10 kali, dan kalah 13 kali. Rasio kemenangan di bawah 25 persen itu menempatkan mereka sebagai salah satu tim dengan performa terburuk di paruh bawah klasemen.
Yang lebih menyakitkan, catatan gol PSM juga defisit: 36 gol tercipta berbanding 41 kebobolan. Selisih minus lima itu mencerminkan tim yang rapuh di lini belakang sekaligus minim ketajaman di depan.
Tren form lima pertandingan terakhir PSM pun tidak menjanjikan: L-W-L-W-D. Dua kekalahan di antara lima laga terakhir menunjukkan ketidakkonsistenan yang menjadi benang merah masalah sepanjang musim.
Bali United Manfaatkan Kelengahan Lini Belakang PSM
Bali United tampil efisien di kandang sendiri. Dengan form W-W-W-L-W sebelum laga ini, Serdadu Tridatu memang sedang dalam kepercayaan diri tinggi. Dua gol tanpa balas yang mereka ciptakan bukan sekadar cerminan kualitas, melainkan juga hasil dari eksploitasi langsung terhadap kelemahan struktural pertahanan PSM.
Bali United, yang berada di posisi 8 dengan 45 poin dari 30 pertandingan, berhasil mencetak 50 gol musim ini — tertinggi di antara klub-klub papan tengah. Mereka tahu cara memanfaatkan ruang dan transisi cepat, dua hal yang selama ini menjadi titik buta skuad PSM.
Di Mana Akar Masalahnya?
Kekalahan dari Bali United bukan anomali. Ini adalah gejala dari masalah yang sudah berakar sejak awal musim.
Pertama, inkonsistensi lini belakang. PSM kebobolan 41 gol dari 30 pertandingan — rata-rata lebih dari 1,3 gol per laga. Koordinasi antar bek kerap terganggu, dan pressing lawan yang terorganisir hampir selalu berhasil menciptakan peluang berbahaya.
Kedua, minimnya produktivitas lini depan di momen krusial. Dengan 36 gol dari 30 laga, PSM hanya mencetak rata-rata 1,2 gol per pertandingan. Angka itu tidak cukup untuk menutup kebocoran di belakang.
Ketiga, ketidakstabilan mental dan taktik. Pola L-W-L-W yang berulang dalam catatan form PSM memperlihatkan tim yang tidak punya fondasi taktik konsisten. Kemenangan tidak mampu dijadikan momentum, dan kekalahan tidak dijadikan pelajaran yang terstruktur.
Ancaman Zona Merah Masih Nyata
Dengan 31 poin dari 30 pertandingan, PSM kini hanya berjarak tipis dari zona degradasi. Sisa laga musim ini akan sangat menentukan nasib mereka. Setiap poin yang terbuang bisa berbuntut panjang.
Manajemen dituntut segera mengidentifikasi apakah persoalan ada di level taktik pelatih, kualitas pemain, atau justru masalah non-teknis seperti kondisi fisik dan mental skuad. Waktu tidak lagi banyak.
PSM pernah menjadi kekuatan besar Liga Indonesia. Musim ini, mereka berada di persimpangan — antara berbenah serius atau terjerembab lebih dalam.