Sundul
Liga Indonesia

Persija vs Persib Dipindah ke Segiri, Kontroversi Venue Klasik

Laga Persija vs Persib di BRI Liga 1 dipindah ke Stadion Segiri, Samarinda. Keputusan ini menuai kritik dari pemerhati sepak bola nasional.

Dimas Wirawan · 07 Mei 2026, 10:14 · 3 min baca

Laga paling ditunggu BRI Liga 1 musim ini, Persija Jakarta kontra Persib Bandung, resmi dipindahkan ke Stadion Segiri, Samarinda. Keputusan itu langsung memantik reaksi dari berbagai pihak, termasuk pemerhati sepak bola nasional yang menyebut kondisi ini sebagai cermin stagnasi persepakbolaan Indonesia.

Bukan Pertama Kali Venue Bermasalah

Perpindahan venue untuk laga besar bukan fenomena baru di Liga 1. Alasan keamanan kerap menjadi dalih utama setiap kali dua raksasa ini bentrok. Stadion utama masing-masing klub, Jakarta dan Bandung, dianggap terlalu berisiko karena potensi bentrokan suporter kedua kubu.

Akibatnya, laga yang seharusnya menjadi pesta sepak bola justru digeser ke kota netral ribuan kilometer dari basis pendukung kedua tim. Segiri di Samarinda pun dipilih sebagai solusi pragmatis yang sudah berulang kali dipakai.

Pemerhati: "Sepak Bola Kita Gini-Gini Saja"

Sejumlah pemerhati sepak bola Indonesia bereaksi keras. Mereka menilai keputusan memindahkan laga sekelas Persija vs Persib ke venue netral yang jauh dari kedua basis suporter adalah bukti nyata bahwa tata kelola sepak bola nasional belum maju secara signifikan.

Kritik diarahkan pada ketidakmampuan otoritas sepak bola dan aparat keamanan untuk menjamin laga berlangsung aman di kandang salah satu tim. Bagi para pengamat, situasi ini menunjukkan bahwa pendekatan terhadap rivalitas suporter tidak berubah selama bertahun-tahun.

Frasa yang beredar luas, "sepak bola kita gini-gini saja," merangkum kekecewaan kolektif itu dengan tepat.

Dampak ke Persaingan Gelar

Di luar polemik venue, laga ini memiliki bobot kompetitif yang sangat tinggi. Persija saat ini berada di posisi ketiga klasemen BRI Liga 1 dengan 65 poin dari 31 pertandingan. Catatan mereka: 20 menang, 5 imbang, 6 kalah, dengan 58 gol dicetak dan hanya 26 kebobolan. Lima laga terakhir pun menunjukkan tren positif dengan catatan WWDWW.

Dengan selisih poin yang tipis di papan atas, hasil laga melawan Persib bisa menjadi penentu arah persaingan juara hingga akhir musim. Poin dari laga ini bukan sekadar angka biasa — ini bisa menjadi momentum psikologis bagi siapapun yang menang.

Segiri Siap, tapi Suporter Gigit Jari

Stadion Segiri secara teknis layak menampung laga skala besar. Namun persoalannya bukan pada kapasitas stadion, melainkan pada aksesibilitas bagi suporter setia kedua tim. Bobotoh dari Bandung dan Jakmania dari Jakarta harus menempuh perjalanan lintas pulau hanya untuk menyaksikan laga kandang-tandang yang secara geografis tidak berada di kandang siapapun.

Biaya dan jarak menjadi penghalang nyata. Sebagian besar suporter kelas menengah ke bawah otomatis tereliminasi dari tribun. Atmosfer yang seharusnya menjadi keunggulan laga klasik ini pun berpotensi meredup.

Kapan Berubah?

Pertanyaan yang sama terus berulang setiap musim: kapan Persija vs Persib bisa digelar di Jakarta atau Bandung dengan penonton penuh dari kedua pihak, dalam suasana kompetitif namun aman?

Selama manajemen risiko keamanan masih bertumpu pada solusi "pindah venue", maka jawaban atas pertanyaan itu tampaknya belum akan datang dalam waktu dekat. Pemerhati sepak bola sudah lelah menunggu perubahan sistemik yang tak kunjung tiba.

Sementara itu, bola tetap harus bergulir di Segiri — jauh dari dua kota yang paling berhak menyaksikannya.

#Bri Liga 1 #Persib #Persija #Liga 1 2025 #Stadion Segiri #Klasik Indonesia