Sundul
Liga Indonesia

Pramono Kecewa Persija vs Persib Batal di GBK

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan kekecewaannya setelah laga Persija Jakarta melawan Persib Bandung batal digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Fajar Hidayat · 07 Mei 2026, 12:13 · 3 min baca

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan kekecewaannya secara terbuka setelah laga Persija Jakarta kontra Persib Bandung batal dilangsungkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Partai bertajuk el clasico Indonesia itu gagal hadir di panggung paling bergengsi di ibu kota, padahal antusiasme suporter dari kedua kubu sudah sangat tinggi.

Kekecewaan Pramono: GBK Layak Jadi Panggung Derbi Terbesar

Pramono menilai GBK seharusnya menjadi tempat yang paling tepat untuk mempertemukan dua raksasa sepak bola Indonesia itu. Stadion berkapasitas besar di jantung Jakarta tersebut dinilai mampu mengakomodasi ribuan suporter dari kedua pihak sekaligus memberikan atmosfer pertandingan yang luar biasa.

Batalnya penggunaan GBK sebagai venue menjadi pukulan tersendiri bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang selama ini mendorong agar laga-laga besar digelar di fasilitas kelas dunia milik negara tersebut.

Alasan Laga Dipindah atau Dibatalkan

Pembatalan penggunaan GBK sebagai venue disebut berkaitan dengan sejumlah pertimbangan teknis dan keamanan. Laga Persija vs Persib selalu masuk kategori pertandingan berisiko tinggi mengingat sejarah panjang rivalitas kedua suporter. Otoritas terkait rupanya memutuskan venue alternatif atau menunda penyelenggaraan demi meminimalkan potensi gesekan antara Jakmania dan bobotoh yang hadir dalam jumlah masif.

Keputusan ini memunculkan perdebatan, mengingat GBK justru memiliki infrastruktur keamanan yang lebih lengkap dibandingkan stadion-stadion lain yang biasa digunakan sebagai alternatif.

Persija di Papan Atas, Momentum Laga Sangat Sayang Dilewatkan

Timing pembatalan ini terasa ekstra disayangkan. Persija saat ini berada di posisi ketiga klasemen BRI Liga 1 dengan 65 poin dari 31 pertandingan — catatan 20 menang, 5 seri, dan 6 kalah. Macan Kemayoran juga tengah dalam performa apik dengan rangkaian hasil WWDWW di lima laga terakhir.

Dengan torehan 58 gol dan hanya kebobolan 26 sepanjang musim, Persija jelas bukan tim yang sedang dalam tekanan. Justru mereka sedang dalam kondisi terbaik untuk tampil di panggung GBK di hadapan puluhan ribu pendukung sendiri.

Laga melawan Persib dalam kondisi seperti ini bukan hanya soal tiga poin. Ini soal gengsi, sejarah, dan momentum musim yang tidak bisa diulang.

Rivalitas Dua Kota, Satu Panggung yang Terus Dinanti

Persija vs Persib adalah salah satu fixture paling dinantikan di kalender BRI Liga 1 setiap musimnya. Dua kota besar, dua basis suporter raksasa, dan sejarah pertemuan yang selalu meninggalkan cerita. GBK, dengan kapasitas dan statusnya, selama ini selalu menjadi impian ideal sebagai tuan rumah pertemuan ini.

Kekecewaan Pramono bukan sekadar reaksi politis. Ini mencerminkan harapan banyak pihak agar sepak bola Indonesia bisa tampil di level penyelenggaraan yang lebih tinggi — bukan mundur ke venue-venue yang lebih kecil karena alasan keamanan yang sebenarnya bisa diatasi dengan perencanaan matang.

Pertanyaan untuk PSSI dan Penyelenggara

Kejadian ini melempar bola ke pihak PSSI dan PT Liga Indonesia Baru selaku penyelenggara kompetisi. Jika GBK tidak bisa digunakan untuk laga sekaliber Persija vs Persib, stadion mana lagi yang dianggap layak? Dan kapan sepak bola Indonesia benar-benar siap mengelola laga berisiko tinggi dengan standar profesional penuh di hadapan puluhan ribu penonton?

Pramono sudah bersuara. Kini giliran otoritas sepak bola nasional menjawab dengan tindakan konkret, bukan sekadar penundaan dan perpindahan venue.

#Persib Bandung #Bri Liga 1 #Persija Jakarta #Gbk #El Clasico Indonesia #Pramono Anung