Sundul
Sepak Bola Dunia

Argentina Hapus Kutukan 1990 dengan Gelar 2022

Argentina mematahkan pola kutukan Piala Dunia 1990 — kalah di laga pembuka, lalu menjadi juara dunia di Qatar 2022.

Dimas Wirawan · 30 April 2026, 06:31 · 3 min baca

Argentina menjadi juara Piala Dunia 2022 di Qatar setelah mengalahkan Prancis lewat adu penalti di final — dan perjalanan itu dimulai dengan kekalahan memalukan di laga pertama grup. Fenomena ini ternyata pernah terjadi sebelumnya, tepat 32 tahun silam di Italia 1990.

Paralel 1990 dan 2022: Kalah Dulu, Juara Kemudian

Di Piala Dunia Italia 1990, Argentina yang dipimpin Diego Maradona langsung tersandung di laga pertama. La Albiceleste kalah 0-1 dari Kamerun — hasil yang mengejutkan dunia sepak bola saat itu. Namun Argentina bangkit, lolos dari fase grup, dan melaju hingga final di Roma sebelum akhirnya kalah dari Jerman Barat 0-1.

Flash forward ke Qatar 2022. Argentina membuka turnamen dengan kekalahan 1-2 dari Arab Saudi pada 22 November 2022, salah satu hasil paling mengejutkan dalam sejarah Piala Dunia modern. Gol Lionel Messi dari titik penalti tak cukup. Argentina tumbang.

Perbedaannya: di 1990, Argentina berhenti di final. Di 2022, Argentina pergi lebih jauh — menjadi juara dunia.

Reaksi dan Kebangkitan Pasca-Kekalahan

Kekalahan dari Arab Saudi memicu kepanikan masif. Fans Argentina berduka, analis menyebut skuad Lionel Scaloni sebagai tim tanpa mentalitas juara. Media Argentina melaporkan suasana ruang ganti yang sunyi dan tegang malam itu.

Scaloni merespons dengan reorganisasi taktis. Argentina memenangkan dua laga sisa grup melawan Meksiko (2-0) dan Polandia (2-0), lolos sebagai juara Grup C. Messi mulai menemukan ritme terbaiknya justru setelah bencana itu.

Di fase gugur, Argentina melibas Australia 2-1, mengalahkan Belanda lewat adu penalti setelah bermain 2-2 di waktu normal, menyingkirkan Kroasia 3-0 di semifinal, lalu menghadapi final epik melawan Prancis yang berakhir 3-3 setelah perpanjangan waktu sebelum Argentina menang 4-2 lewat adu penalti.

Messi dan Beban Sejarah yang Akhirnya Terangkat

Lionel Messi tampil sebagai top skor Argentina di turnamen itu dengan tujuh gol dan tiga assist. Penampilan puncaknya datang di final: dua gol, satu assist, dan satu penalti yang dieksekusi dengan sempurna dalam adu penalti.

Bagi Messi, trofi itu menutup satu-satunya lubang besar dalam karier legendarisnya. Lima penampilan Piala Dunia sebelumnya — 2006, 2010, 2014, 2018 — tak pernah berakhir dengan angkat trofi. Di Qatar, pada usia 35 tahun, dia akhirnya melakukannya.

Gelar itu juga menjadi trofi Piala Dunia ketiga Argentina, menyusul 1978 dan 1986, dan pertama kali sejak generasi Maradona.

Kutukan yang Sebenarnya Bukan Kutukan

Narasi "kutukan" kekalahan di laga pembuka memang dramatis, tetapi data bicara berbeda. Banyak tim besar dalam sejarah Piala Dunia pernah tersandung di laga pertama lalu melaju jauh — bahkan menjadi juara. Yang membedakan Argentina 2022 bukan mistisisme, melainkan kedalaman skuad, kepemimpinan Messi, dan kecakapan taktis Scaloni dalam membaca situasi.

Kekalahan dari Arab Saudi justru berfungsi sebagai wake-up call. Argentina bermain lebih disiplin, lebih solid secara defensive, dan lebih efisien dalam konversi peluang di laga-laga berikutnya.

Warisan Qatar 2022

Piala Dunia 2022 akan dikenang sebagai turnamen terbaik dalam beberapa dekade terakhir — penuh kejutan, drama, dan momen ikonik. Argentina vs Prancis di final sudah disebut oleh banyak pengamat sebagai final terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.

Bagi Argentina, gelar itu bukan sekadar trofi ketiga. Ia adalah penutup sempurna untuk era Messi, sekaligus bukti bahwa kekalahan di laga pembuka — baik di 1990 maupun 2022 — tidak pernah benar-benar mendefinisikan sebuah tim.

#Piala Dunia 2026 #Argentina #Lionel Messi #Piala Dunia 1990 #Piala Dunia 2022 #Qatar 2022 #Sepak Bola Dunia