Sundul
Liga Spanyol

Krisis Internal Real Madrid Jelang El Clasico

Ketegangan di ruang ganti Real Madrid memanas menjelang El Clasico, dengan kehadiran Kylian Mbappe disebut menjadi salah satu pemicu utama perpecahan internal Los Blancos.

Fajar Hidayat · 08 Mei 2026, 09:32 · 3 min baca

Krisis internal Real Madrid meledak ke permukaan di waktu yang paling tidak tepat — jelang El Clasico melawan Barcelona. Kylian Mbappe disebut sebagai sosok di balik memanasnya suasana ruang ganti Santiago Bernabéu, memperburuk kondisi tim yang tengah limbung di La Liga.

Posisi Madrid Rapuh di La Liga

Data klasemen berbicara keras. Real Madrid saat ini terdampar di posisi ke-9 La Liga setelah 8 pekan, mengoleksi 15 poin dari 5 kemenangan dan 3 kekalahan. Lebih mengkhawatirkan, Los Blancos tidak mencatat satu pun hasil imbang — artinya tim ini sering menang besar atau kalah telak.

Rekam jejak lima laga terakhir mencerminkan inkonsistensi akut: LWLWL. Madrid baru saja diimbangi Real Betis 1-1 di La Liga, hasil yang kian memperdalam kegelisahan Bernabéu. Dengan catatan 21 gol tercipta namun 12 gol kebobolan, lini pertahanan jelas menjadi lubang yang belum tersumbat.

Kondisi ini menjadi latar paling buruk untuk memasuki El Clasico. Barcelona, yang kini berada di papan atas, datang dengan motivasi penuh setelah bek muda Pau Cubarsí tegas menyatakan Les Blaugrana mengincar gelar, bukan sekadar rasa hormat dari Madrid.

Mbappe di Pusaran Konflik

Nama Mbappe menjadi sorotan utama dalam laporan ketegangan internal yang menyeruak ke publik. Penyerang asal Prancis itu, yang bergabung sebagai bintang paling ditunggu di musim ini, justru dikaitkan dengan gesekan di dalam skuad.

Kehadirannya yang mendominasi perhatian — baik di lapangan maupun di luar lapangan — disebut menciptakan dinamika tidak sehat di antara para pemain. Hierarki baru yang belum sepenuhnya diterima seluruh anggota skuad menjadi akar dari permasalahan ini.

Dalam konteks tim besar seperti Real Madrid, ego pemain bintang bukan hal baru. Namun timing munculnya konflik ini, tepat sebelum laga paling bergensi di sepak bola Spanyol, menambah tekanan berlapis bagi Carlo Ancelotti — atau siapapun yang kini memegang kendali pelatih Los Blancos.

Beban Mental Jelang Derby Terbesar

El Clasico bukan sekadar tiga poin. Laga ini adalah cermin identitas klub, dan kekalahan di dalamnya meninggalkan luka yang tak mudah sembuh sepanjang musim. Madrid memasuki laga ini bukan dari posisi kuat, melainkan dari posisi tertekan.

Konflik internal yang bocor ke publik memperlemah posisi tawar psikologis tim. Pemain yang berseteru di ruang ganti jarang tampil optimal di lapangan, apalagi dalam laga bertekanan tinggi seperti El Clasico di mana setiap keputusan — dan setiap pemain — akan diuji habis-habisan.

Fans Madrid di Bernabéu sudah terbiasa merayakan kemenangan besar. Namun dengan formasi laga terkini yang tidak stabil dan suasana tim yang memanas, harapan itu kini bersandar pada kemampuan manajemen untuk meredam konflik sebelum peluit pertama berbunyi.

Apakah Madrid Bisa Redam Krisis?

Sejarah mencatat Real Madrid pernah tampil luar biasa justru saat berada di titik paling terpuruk. Keajaiban comeback di Liga Champions adalah bukti bahwa mental juara tidak hilang begitu saja hanya karena tekanan eksternal.

Namun kali ini tantangannya berbeda. Krisis datang dari dalam, bukan dari luar. Penyatuan skuad yang terpecah jauh lebih rumit dibanding membalik defisit gol di babak kedua.

Manajemen klub dituntut bergerak cepat. Dialog antarpemain, peran kapten, dan kepemimpinan pelatih akan menjadi penentu apakah Madrid bisa tampil sebagai satu kesatuan saat menghadapi Barcelona — atau justru tercerai-berai di momen paling menentukan musim ini.

Waktu untuk menyelesaikan masalah internal sangat sempit. El Clasico tidak menunggu siapapun.

#El Clasico #Real Madrid #Barcelona #La Liga #Mbappe #Krisis Internal