Aturan Baru Skor Pertandingan Bulutangkis 2025
BWF resmi memberlakukan aturan baru sistem skor pertandingan bulutangkis. Ini yang perlu diketahui penggemar dan atlet sebelum berlaga.
Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) memberlakukan perubahan sistem skor pertandingan bulutangkis yang berdampak langsung pada format kompetisi di seluruh level, dari turnamen junior lokal hingga event internasional bergengsi. Aturan ini menyentuh poin kemenangan per set, jumlah set, hingga mekanisme deuce yang selama ini sudah akrab di telinga penggemar.
Format Skor yang Berlaku Saat Ini
Selama bertahun-tahun, pertandingan bulutangkis menggunakan sistem rally point dengan format best of three games. Setiap game dimainkan hingga 21 poin, dengan syarat unggul minimal dua poin saat skor seri 20-20. Bila skor menyentuh 29-29, poin ke-30 langsung menjadi penentu kemenangan tanpa perlu selisih dua angka.
Format ini diberlakukan BWF sejak 2006, menggantikan sistem servis tradisional yang dianggap membuat durasi pertandingan sulit diprediksi.
Apa yang Berubah dalam Aturan Baru?
BWF tengah menguji coba format skor yang diperpendek untuk sejumlah kategori turnamen. Dalam uji coba ini, setiap game hanya dimainkan hingga 11 poin, bukan 21. Format pertandingan berubah menjadi best of five games — artinya tim atau pemain pertama yang memenangkan tiga game keluar sebagai pemenang.
Mekanisme deuce tetap diterapkan: saat skor 10-10, permainan dilanjutkan hingga salah satu pihak unggul dua poin. Namun batas atas ditetapkan di angka 15 — siapa pun yang pertama mencetak poin ke-15 langsung menang tanpa perlu selisih dua poin.
Perubahan ini dirancang agar pertandingan lebih dinamis, segmen siaran lebih mudah dikelola, dan penonton tidak kehilangan momentum di tengah reli panjang.
Tujuan BWF di Balik Perubahan Ini
BWF secara terbuka menyatakan bahwa reformasi format skor bertujuan meningkatkan daya tarik bulutangkis di platform siaran digital dan televisi. Durasi pertandingan yang lebih terukur memudahkan jadwal siaran langsung, terutama untuk event multi-hari seperti Thomas & Uber Cup atau All England.
Selain itu, format baru diyakini mengurangi dominasi fisik semata. Dengan game yang lebih pendek, faktor strategi dan ketajaman mental di setiap poin menjadi jauh lebih krusial. Tidak ada ruang untuk "pemanasan" panjang — setiap poin di awal game langsung menentukan.
Untuk atlet muda, perubahan ini juga berarti mereka harus beradaptasi lebih cepat dalam hal pengelolaan energi dan fokus taktis per game.
Kapan dan Di Mana Aturan Ini Berlaku?
Uji coba format 11 poin sudah dijalankan di beberapa turnamen level bawah dan event eksibisi. BWF menjadikannya sebagai proyek percontohan sebelum kemungkinan diberlakukan secara penuh di seluruh kategori kompetisi resmi.
Untuk turnamen Grade 1 ke atas — termasuk seri BWF World Tour dan Olimpiade — format 21 poin best of three masih berlaku hingga ada keputusan resmi lebih lanjut dari dewan BWF. Pengumuman resmi mengenai timeline transisi dijadwalkan menyusul hasil evaluasi uji coba yang tengah berjalan.
Di tingkat nasional Indonesia, PBSI belum mengeluarkan surat edaran resmi terkait adopsi format baru ini untuk kompetisi domestik. Namun pelatih dan ofisial di berbagai klub sudah mulai memperkenalkan format 11 poin dalam sesi latihan internal.
Dampak bagi Atlet dan Penonton Indonesia
Indonesia adalah salah satu produsen atlet bulutangkis terbaik dunia. Perubahan format skor berpotensi menguntungkan pemain yang mengandalkan kecepatan dan agresivitas sejak poin pertama, bukan sekadar stamina marathon.
Bagi penonton, terutama yang menyaksikan via siaran streaming, pertandingan dengan format lebih pendek per game menawarkan intensitas lebih tinggi tanpa risiko kebosanan di tengah reli yang berlarut. Setiap game terasa seperti babak final tersendiri.
Para pelatih di Pelatnas pun disarankan mulai menyesuaikan program latihan — terutama pada aspek servis taktis, pola awal game, dan mental recovery antargame yang kini jumlahnya bertambah dalam satu pertandingan.