Sundul
Liga Italia

Tren Penurunan Performa AC Milan di Serie A

AC Milan mencatat dua kekalahan beruntun dalam lima laga terakhir, menempatkan Rossoneri di posisi rawan jelang akhir musim Serie A 2025/26.

Reza Pratama · 09 Mei 2026, 04:09 · 3 min baca

AC Milan menjalani akhir musim Serie A 2025/26 dengan performa yang meresahkan. Dari lima laga terakhir, Rossoneri hanya meraih satu kemenangan, diselingi satu hasil imbang, dan dua kekalahan — sebuah tren yang dengan jelas terbaca dari data statistik mereka sepanjang musim.

Data Klasemen yang Mengkhawatirkan

Milan saat ini menempati posisi ketiga klasemen Serie A dengan 67 poin dari 35 pertandingan. Catatan tersebut terdiri dari 19 kemenangan, 10 hasil imbang, dan 6 kekalahan. Dengan satu laga tersisa, posisi mereka di papan atas memang masih aman secara nominal, namun tren form terkini — L, D, W, L, L — menunjukkan inkonsistensi yang nyata.

Produktivitas gol juga menjadi sorotan. Milan hanya mencetak 48 gol dalam 35 pertandingan, angka yang tergolong sedang untuk tim yang berada di tiga besar. Di sisi lain, pertahanan kebobolan 29 gol, atau rata-rata lebih dari 0,8 gol per laga.

Masalah Konsistensi yang Berulang

Pola permainan Milan belakangan ini menjadi perhatian serius. Dua kekalahan berturut-turut dalam form terakhir bukan pertama kali terjadi musim ini — tim Sergio Conceição kesulitan mempertahankan momentum setelah meraih hasil positif.

Pelatih timnas Italia Luciano Spalletti bahkan secara terbuka menyindir gaya main Milan dan Rafael Leao yang dinilai kerap mengandalkan trik menipu ketimbang determinasi nyata. Kritik dari sosok sekaliber Spalletti memperkuat narasi bahwa ada yang tidak beres dengan pendekatan permainan Rossoneri.

Leao dan Beban Serangan Milan

Rafael Leao selama ini menjadi tumpuan serangan Milan. Namun, ketika pemain asal Portugal itu tidak tampil dalam performa terbaiknya, tidak ada mekanisme cadangan yang cukup meyakinkan. Ketergantungan tinggi pada satu pemain menjadi salah satu celah struktural yang kerap dieksploitasi lawan.

Statistik gol tim yang stagnan di angka 48 dalam 35 pertandingan mempertegas bahwa variasi serangan Milan kurang berkembang. Bandingkan dengan intensitas pressing dan kreativitas tim-tim rival yang mampu menghasilkan lebih banyak peluang per laga.

Ancaman dari Bawah Semakin Kecil, tapi Peluang di Atas Juga Tertutup

Dengan 67 poin dan satu laga tersisa, Milan praktis terkunci di posisi ketiga. Mereka tidak lagi bisa naik ke posisi kedua atau pertama, sekaligus sudah cukup jauh dari ancaman degradasi zona empat besar. Artinya, secara matematis musim ini selesai — namun secara kualitas, banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Catatan akhir musim ini akan menjadi bahan evaluasi penting. Apakah masalah yang ada cukup ditambal dengan penyesuaian pemain di bursa transfer, atau dibutuhkan perubahan yang lebih fundamental dalam filosofi permainan.

Proyeksi Musim Depan

Manajemen Milan dipastikan akan menelaah musim ini secara menyeluruh. Dari 35 laga yang dimainkan, tim hanya kalah 6 kali — angka yang relatif kompetitif. Namun kualitas kekalahan dan momen terjadinya menjadi masalah tersendiri: Milan kerap tersandung di laga-laga yang seharusnya bisa dimenangi.

Tren penurunan di penghujung musim bukan hal baru bagi Rossoneri dalam beberapa tahun terakhir. Stamina skuad, kedalaman rotasi, dan mentalitas bertarung di laga besar menjadi tiga variabel yang perlu mendapat perhatian serius menjelang musim 2026/27.

Posisi ketiga Serie A tetap menjadi pencapaian yang layak, tapi data statistik musim ini berbicara dengan jelas: Milan belum berhasil menampilkan konsistensi layaknya calon juara sejati.

#AC Milan #Serie A #Luciano Spalletti #Klasemen Serie A #Rafael Leao #Performa Milan