AFC Hapus Kebijakan Kontroversial di Putaran 5 Kualifikasi Piala Dunia 2026
AFC resmi menghapus kebijakan kontroversial soal venue netral di putaran kelima Kualifikasi Piala Dunia 2026, kabar baik bagi UEA dan Irak yang sebelumnya paling dirugikan.
AFC memutuskan untuk menghapus kebijakan penggunaan venue netral yang selama ini menjadi sorotan dan kritik keras dari berbagai pihak. Keputusan ini berlaku mulai putaran kelima Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, dan kabar ini disambut lega terutama oleh United Arab Emirates (UEA) dan Irak.
Kebijakan yang Lama Dipersoalkan
Kebijakan venue netral AFC selama ini mewajibkan beberapa negara tertentu menggelar laga kandang mereka di stadion yang bukan milik sendiri. Alasan AFC umumnya berkisar soal keamanan dan kelayakan infrastruktur, namun implementasinya dianggap tidak adil dan merugikan tim tuan rumah secara kompetitif.
UEA dan Irak adalah dua negara yang paling sering terdampak kebijakan ini. Bermain tanpa dukungan suporter kandang di hadapan ribuan penonton setia merupakan kerugian nyata, bukan sekadar simbolis. Faktor psikologis dan keuntungan lapangan kandang hilang begitu saja.
Protes dari federasi-federasi terkait sudah lama bergulir. Kebijakan ini dianggap sepihak dan tidak mempertimbangkan kemajuan infrastruktur serta situasi keamanan terkini di negara-negara yang dikenai aturan tersebut.
Apa yang Berubah di Putaran Kelima
Dengan dihapusnya kebijakan venue netral, seluruh tim peserta putaran kelima Kualifikasi Piala Dunia 2026 kini berhak menggelar laga kandang di negara masing-masing. Ini berarti UEA bisa bermain di depan pendukung mereka sendiri, begitu pula Irak yang dikenal memiliki basis suporter fanatik.
Putaran kelima merupakan babak play-off final zona Asia yang akan menentukan tiket tambahan ke Piala Dunia 2026. Format dan jumlah pesertanya ditentukan dari hasil putaran ketiga dan keempat, di mana sejumlah tim dari Grup A hingang Grup C bersaing memperebutkan tempat.
Perubahan kebijakan ini menjadi angin segar sekaligus koreksi penting dari AFC yang selama ini kerap mendapat tekanan dari federasi anggotanya.
Dampak bagi UEA dan Irak
Bagi UEA, bermain di kandang sendiri berarti dukungan penuh dari suporter mereka yang dikenal vokal dan antusias. Stadion-stadion di Uni Emirat Arab juga telah memenuhi standar FIFA, sehingga argumen infrastruktur sebagai alasan pengenaan venue netral semakin sulit dipertahankan AFC.
Irak bahkan lebih diuntungkan lagi. Tim nasional Irak memiliki atmosfer kandang yang luar biasa intens. Laga-laga yang dimainkan di Baghdad atau Basra kerap menjadi mimpi buruk bagi tim tamu. Kehilangan keuntungan itu di putaran-putaran sebelumnya jelas memengaruhi perjalanan Irak dalam kualifikasi.
Dengan dikembalikannya hak bermain di kandang sendiri, peluang kedua tim untuk tampil maksimal di putaran penentu meningkat signifikan.
Sinyal Positif dari AFC
Keputusan AFC ini bisa dibaca sebagai pengakuan bahwa kebijakan venue netral memang bermasalah secara prinsip. Kompetisi kualifikasi seharusnya memberikan kondisi yang setara dan fair bagi semua peserta, termasuk keuntungan bermain di depan pendukung sendiri.
Langkah ini juga sejalan dengan tren global di mana konfederasi sepak bola dituntut lebih transparan dan responsif terhadap aspirasi federasi anggotanya. CAF, misalnya, juga tengah menata ulang format play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 dengan mempertimbangkan masukan dari negara-negara anggota.
Bagi zona Asia secara keseluruhan, putaran kelima kualifikasi yang lebih adil akan menghasilkan wakil terbaik untuk Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Asia mendapat jatah 8,5 tiket di edisi yang untuk pertama kalinya diikuti 48 negara itu.
Persaingan Ketat Menuju Piala Dunia 2026
Zona Asia memang kian kompetitif. Dari putaran ketiga, nama-nama seperti Jepang, Korea Selatan, Iran, dan Australia sudah memastikan diri lolos lebih awal. Sementara sejumlah tim lain, termasuk UEA dan Irak, masih harus berjuang keras melewati putaran play-off.
Dengan tidak adanya lagi kebijakan venue netral, peta persaingan di putaran kelima bisa berubah. Tim-tim yang sebelumnya dipaksa bermain di tempat netral kini punya motivasi dan kondisi lebih optimal untuk meraih tiket impian menuju Piala Dunia.
AFC sudah membuat keputusan yang tepat. Sekarang giliran UEA, Irak, dan tim-tim Asia lainnya membuktikan bahwa keuntungan kandang bisa mereka manfaatkan sebaik mungkin.