Sundul
Liga Indonesia

Gaji Pemain BRI Liga 1 Tertinggi, Tembus Rp8 Miliar

Sejumlah pemain BRI Liga 1 menerima gaji fantastis, dengan yang tertinggi mencapai Rp8 miliar per tahun. Siapa saja mereka?

Fajar Hidayat · 07 Mei 2026, 21:45 · 3 min baca

BRI Liga 1 bukan lagi liga kelas dua soal urusan gaji. Beberapa pemain — baik lokal maupun asing — kini menerima bayaran yang mampu bersaing dengan standar regional Asia Tenggara, dengan angka tertinggi menyentuh Rp8 miliar per tahun.

Kisaran Gaji di BRI Liga 1

Struktur gaji di BRI Liga 1 terbagi cukup lebar. Pemain muda atau pelapis biasanya menerima di kisaran Rp10–50 juta per bulan. Pemain reguler tim papan tengah berada di rentang Rp50–150 juta per bulan. Sementara pemain bintang klub-klub besar bisa menembus Rp300–700 juta per bulan.

Angka tertinggi, yakni sekitar Rp8 miliar per tahun atau setara lebih dari Rp650 juta per bulan, dipegang oleh pemain asing berkualitas di klub-klub dengan modal kuat seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, dan Bali United.

Pemain Asing Mendominasi Slot Gaji Tertinggi

Pemain asing marquee tetap menjadi penerima gaji terbesar di kompetisi domestik Indonesia. Regulasi Liga 1 memperbolehkan setiap klub mendaftarkan maksimal delapan pemain asing per musim, dengan tiga slot khusus ASEAN.

Striker dan gelandang serang asing dari Brasil, Afrika, dan Eropa Timur umumnya menempati posisi gaji teratas. Nilai kontrak mereka mencakup gaji pokok, bonus penampilan, dan tunjangan akomodasi yang bila dijumlah bisa melampaui angka Rp8 miliar dalam satu musim penuh.

Klub seperti Persib Bandung dikenal agresif di pasar transfer dan berani mengeluarkan anggaran besar untuk mendatangkan pemain asing berkualitas demi mempertahankan posisi kompetitif di papan atas klasemen.

Pemain Lokal Bintang Pun Tak Kalah

Di sisi pemain lokal, beberapa nama senior dengan rekam jejak panjang di Liga 1 juga menerima gaji signifikan. Pemain lokal top di klub besar bisa mengantongi Rp150–400 juta per bulan, bergantung pada posisi, reputasi, dan kebutuhan klub.

Pemain yang pernah atau sedang aktif di timnas senior Indonesia umumnya memiliki daya tawar lebih tinggi saat negosiasi kontrak. Status internasional secara langsung mendongkrak nilai mereka di pasar domestik.

Posisi kiper dan bek sentral senior di tim papan atas juga kerap mendapat paket gaji kompetitif, mengingat minimnya stok pemain lokal berkualitas tinggi di posisi-posisi tersebut.

Perbandingan dengan Liga Asia Tenggara Lain

Dibandingkan Thai League 1 dan Malaysian Super League, skala gaji teratas BRI Liga 1 masih sedikit di bawah Thailand yang dianggap sebagai benchmark regional. Namun, gap tersebut terus menyempit seiring masuknya investor baru ke beberapa klub Liga 1 dalam dua musim terakhir.

Pertumbuhan hak siar dan sponsor membuat arus kas klub-klub Liga 1 lebih sehat. Kondisi ini memberi ruang bagi manajemen untuk menawarkan kontrak lebih kompetitif, khususnya kepada pemain asing yang sebelumnya lebih memilih berkarier di Thailand atau Vietnam.

Dampak terhadap Kualitas Kompetisi

Kenaikan standar gaji berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pemain yang bersedia merumput di Indonesia. Beberapa pemain dengan rekam jejak di liga Eropa kini mulai melirik BRI Liga 1 sebagai destinasi karier yang layak secara finansial.

Hal ini secara tidak langsung mengerek intensitas persaingan antar klub. Meskipun infrastruktur dan kondisi lapangan di beberapa kota masih menjadi pekerjaan rumah, daya tarik finansial Liga 1 semakin sulit diabaikan oleh pemain berkualitas dari luar negeri.

Ke depan, keberlanjutan tren kenaikan gaji ini sangat bergantung pada pertumbuhan pendapatan klub — mulai dari tiket, merchandise, hak siar, hingga sponsorship — yang harus terus dikelola secara profesional agar ekosistem Liga 1 tetap sehat dan kompetitif.

#Persib Bandung #Bri Liga 1 #Persija Jakarta #Sepak Bola Indonesia #Gaji Pemain Liga 1 #Pemain Asing Liga 1